Home » » Kunjungan CCTV Cina ke Museum Nagari Sumatera Barat

Kunjungan CCTV Cina ke Museum Nagari Sumatera Barat

Posted by Museum Adityawarman on Rabu, 11 Maret 2015

Kedatangan wartawan dari Cina di Museum Nagari pada selasa, 2 April 2013, disambut baik oleh kepala Dinas Budpar Prov Sumbar Drs. H Burhasman MM, Kepala UPTD Museum Nagari Noviyanty, A, SH.MM, Kasi P2T Mardanis,S.Pd, Kasi P3 Dra. Hj. Riza Mutia dan beberapa orang staf khususnya yang bertugas di bidang pelayanan pengunjung dan tamu.
Tujuan kedatangan tim televisi swasta dari cina ke Indonesia dan Sumatera Barat khususnya adalah untuk melihat, mendokumentasikan serta meliputi tempat-tempat yang memiliki nilai sejarah dan budaya di daerah Sumatera Barat atau Minangkabau yang nantinya akan disiarkan di negara mereka dalam program-program kebudayaan yang ada sebagai salah satu ajang promosi wisata.
Berdasarakan kajian sejarah, Cina masuk ke Indonesia sekitar abad ke 14 bersamaan dengan Inggris, Perancis dan Portugis dengan tujuan awal untuk mencari rempah-rempah dan berdagang. Mereka biasanya menetap di daerah pesisir pantai seperti Pariaman, Painan, dan Padang.
Di Kota Padang, sekitar abad ke-14, daerah tempat orang Cina menetap ini cuma kampung nelayan yang tak terkenal, dan baru di akhir 1790-an menjadi pelabuhan yang banyak dikunjungi kapal pedagang.
Keberadaan Etnis Cina di Kota Padang memberikan dampak terhadap proses akulturasi atau pembauran antara kebudayaan yang asli dengan budaya asing atau baru tanpa menghilangkan unsur-unsur kebudayaan asli Minangkabau. Beberapa contoh terjadinya akulturasi budaya tersebut diantaranya adalah Pelaminan Minang yang bernuansa singgasana kekaisaran Dinasti Tiongkok. Minangkabau mengolahnya menjadi sebuah Pelaminan yang disesuaikan dengan falsafah kehidupan berumah tangga bagi pasangan penganten. Baju Anak Daro dengan pola “Bajahik” juga sama dengan sebutan Kapalo panitik dan suji caie di Cina. Pada motif jahitan atau sulaman juga ada pengaruh dari Cina seperti motif naga, serangga, Burung Hong, dll.
Ternyata ada persamaan antara kebudayaan Minangkabau dengan kebudayaan Cina, demikian disampaikan oleh wartawan dari CCTV salah satu TV swata di negara Cina di sela kunjungannya di Museum Nagari Provinsi Sumatera Barat. Menurut mereka ada persamaan simbol-simbol budaya Minangkabau yang sama dengan kebudayaan Cina mulai dari warna pelaminan, ornament-ornamen yang terpasang di pelaminan, suntiang anak daro, motif ukiran dengan gambar burung hong, baju guntiang cino, ukiran aka cino, dll.
Bahkan Surau Lubuk Bauak yang berada di kabupaten Tanah Datar juga ada persamaanya dengan salah satu bangunan Masjid yang ada di Cina Selatan, papar salah seorang Wartawan ketika berdialog dengan kepala Museum Nagari Ibu Noviyanty. A, SH.MM. Beliau menambahkan “bahwa pada saat sekarang ini Museum akan terus berbenah untuk memberikan pelayanan terbaik kepada pengunjung baik lokal maupun pengunjung asing”. Museum dengan tamannya yang bersih dan nyaman serta ruangan pameran yang informatif dapat menjadi tujuan utama untuk kemajuan sebuah Museum saat ini.(Zal)


0 komentar:

Posting Komentar

Bantu likenya Dong

Diberdayakan oleh Blogger.
.comment-content a {display: none;}